Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Januari 2010

Apakah Supporter Menjadi Suatu Ancaman?

Apa sebenarnya yang terjadi pada Supporter kita(Supporter indonesia), bolehlah saya katakan dan kawan-kawan lain katakan jika dalam mendukung Timnas Suppporter kita kompak, berpadu satu di dalam stadion untuk mendukung team garuda berlaga, seperti contohnya pada piala Asia tahun 2007 lalu di Senayan, warna merah putih di padu dengan gempuran suara yang menggema di stadion, dan kita yang menyaksikan di layar kaca seperti berasa di dalam stadion.

Kekompakan tersebut membuat masyarakat dunia bisa jadi iri, jika mereka banyak tahu akan keadaan itu, tidak ada yang bisa menandingi jumlah supporter Indonesia, dengan jumlah penduduknya dan mereka adalah mayoritas penggemar sepak bola, dengan dukungan seperti itu tentu saja bisa membuat team lain akan minder menghadapi tim nasional indonesia(jangan mengatakan prestasi team),gelombang ombak supporter yang serasi dan terus mengalir sepanjang pertandingan adalah suasanya yang sangat membanggakan dan mengharukan(bagi yang terharu).

Namun keadaan tersebut berbanding terbalik saat para supporter tersebut kembali mengenakan kaos teamnya masing-masing,warna kedaerahan akan hadir di tambah dengan bumbu anarkisme yang tidak terkontrol, apa yang sebenarnya terjadi dengan Supporter Team Indonesia?



Saling ejek, baku hantam yang dapat menimbulkan pertumbahan darah, seperti hewan yang sudah tidak mengenal saudaranya sendiri, apakah ini yang di sebut budaya Indonesia? dan apakah ini adalah watak manusia yang di beri akal dan pikiran?

Perasaaan me-nomor satukan kelompok Supporternya, dan membangga-banggakan secara berlebihan kepada teamnya adalah salah satu faktor yang membuat para kelompok oknum Suppporter tersebut memiliki watak dan perilaku HEWANI,hilang sudah watak kemanusiaanya, jika mereka punya naluri manusia harusnya tidak demikian.

Kembali saya membaca sebuah berita di harian Kompas,Panitia pelaksana pertandingan Persela Lamongan mengimbau suporter Persebaya Surabaya yang akrab disapa “bonek”, tidak datang ke Lamongan saat kedua tim bertemu pada pertandingan Indonesia Super League (ISL), Minggu (3/1).

Ketua Panpel Persela Yulianto Lamongan, Senin (28/12), mengaku khawatir dengan kehadiran bonek, terutama menyangkut sisi keamanan dan kenyamanan bagi penonton tuan rumah.

Selain itu, kapasitas Stadion Surajaya Lamongan yang hanya mampu menampung maksimal 10 ribu penonton, juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi panpel. Kapasitas itu hanya cukup memenuhi pendukung Persela.

“Kami memang mengimbau bonek supaya tidak datang ke Lamongan saat pertandingan nanti. Selama ini pertandingan Liga Super di Lamongan belum terusik keributan dan kami sangat menjaga masalah itu,” katanya.

Selama beberapa waktu terakhir, suporter Persela dan Persebaya terlihat tidak kompak, baik ketika bermain di Surabaya maupun Lamongan.

“Sebagai panpel, kami memang tidak bisa melarang dan mengusir setiap penonton yang akan datang ke stadion. Tapi, demi keamanan bersama, kami sangat berharap bonek tidak datang dan sebaliknya ketika nanti Persela main di Surabaya, supporter kami juga tidak ke sana,” ujar Yulianto.

Hilang sudah kepercayaan kepada Bonek, seakan-akan bonek adalah pembunuh yang akan menumpahkan darah jika datang ke Lamongan, padahal jarak lamongan-Surabaya tidak sampai memakan waktu 2 jam perjalanan darat, tapi aroma permusuhan sudah bisa di tebak dan akan terjadi jika keduanya bertemu, manusia yang ketakutan akan manusia lain jika sudah mengenakan kaos Supporter, semoga semua pihak akan sadar, dan marilah kita bersama-sama membangun sebuah warna baru dalam dunia supporter dan sepak bola Indonesia.

Supporter adalah pasukan yang harusnya memberikan warna,hiburan dan rasa kekeluargaan, bukan suatu kelompok dimana dengan kedatangannya menimbulkan ketakuatan, jika demikian hilang sudah filosofi sepak bola, hiburan yang menjadikan teror dan ancaman,Salam Damai Supporter Indonesia.

Sumber : http://supporter.web.id

Read more...

Selasa, 05 Januari 2010

Apakah Jakarta Hanya Milik Jakmania?.

Supporter – Bisa di lihat dan tak usahlah saya berkata banyak tentang laga derbi, tidak hanya di indonesia, di luar negeri/di inggris yang sejarah sepak bolanya sudah ratusan tahun masih saja laga derbi menimbulkan polemik panas, mulai dari pemain hingga supporter, adu jotos bak petinju bukan pemandangan langka lagi, hebat dan luar biasa saya katakan, menurut kalian?…

Dan bagaimana keadaan derbi di Luar negeri?saya tidak akan bercerita hal tersebut,silahkan jalan-jalan di google terkait aroma derbi di luar negeri, saya hanya akan mengulas derbi Liga Indonesia meskipun”sedikit”, ISL dan nama-nama liga sebelumnya juga sering terjadi bentrok antar pemain, panasnya laga membuat GAP(Persaingan) antara pemain membuat mereka sudah tidak bisa menahan tangannya untuk tidak melakukan pemukulan kepada pemain team lawannya,bahkan seorang pemain yang berlabel TIMNAS pun bisa terpancing nafsunya untuk main tangan, siapa pemain tersebut?silahkan juga cari di google, klo saya ulas di sini bisa jadi saya kena UU IT.



Musim ISL kali ini ada 2 laga derbi, di Jakarta antara Persitara dan Persija, laga klasik dua team ibu kota yang tidak pernah akur antar Supporternya”NJ MANIA” dan “JAKMANIA” mereka selalu serang dan tak ada satupun yang berjiwa besar untuk mengalah, JAKMANIA sendiri mem-PLOT tidak ada team lain atau Supporter lain di Ibu Kota selain Persija dan Jakmania, sehingga keberadaan si Pitung dengan NJ Mania tidak pantas ada di Jakarta, hanya Orange sajalah yang pantas dan wajib di akui di Ibu Kota! kenapa Supporter Persija banyak pendukungnya selain Persitara?

Saya menilai faktor penyebabnya adalah masalah nama yang di gunakan, jika Persija adalah “PERSATUAN SEPAK BOLA JAKARTA” yang artinya adalah secara umum/global, sedangkan Persitara adalah “PERSATUAN SEPAK BOLA JAKARTA UTARA” itu tandanya Persitara hanya milik masyarakat Jakarta Utara, yang luas wilayahnya tentu saja tidak sebanding jika Jakarta secara keseluruhan begitu juga jumlah pendukungnya.

Keadaan seperti ini adalah sebuah ironi, hanya karena masalah sekecil itu konflik bisa terjadi, sama-sama betawi yang harusnya bisa saling menghormati, namun ingat saya tidak bermaksud menyinggung Suku. Jakarta adalah Ibu Kota negara Indonesia, tentu saja penduduknya tidak hanya dari Jakarta saja, semua warga negara berhak untuk tinggal di sana untuk mencari penghidupan yang lebih baik, tapi jangan ke Jakarta hanya untuk “GEMBEL” menjadi pengemis, perampok/ jadi Setan wujud manusia, dimana kedatangannya menimbulkan masalah bagi orang lain.

Kembali ke Topic, masalah rivalitas dan keinginan untuk memadukan Jakmania menjadi satu tanpa terpecah belah sebenarnya adalah tujuan baik, dengan harapan seluruh Jakarta menjadi Satu, seperti Kata2 yang sering di ucapkan oleh Jakmania”Satu Jakarta Satu”.

Tapi dimana letak HAM bagi supporter NJ MANIA? meskipun sedikit tetap hargailah mereka wahai saudaraku Jakmania, mereka berhak menjadi bagian Jakarta, pakailah Orange kalian dan hormatilah Biru nya NJ MANia, jika Jakmania dan NJ Mania bertemu seluruhnya, saya yakin kok kalo berantem tanpa ada yang memisah warna biru tidak akan kelihatan”"maaf”bukan bermaksud memojokkan NJ MANia dan tak ada keinginan dari saya agar kalian saling berantem.

Ke depan, temen-temen Jakmania dan NJ Mania dapat kokoh menjadi satu bagian Supporter Jakarta yang bisa membawa nama baik Jakarta dan Supporter ibu Kota pada Umumnya, tidak lucu kan satu saudara, yang jika terjadi hujan sama-sama kebanjiran tapi di saat mencari hiburan berupa sepak bola kalian malah saling memurkai,harap di pikirkan.Hargailah yang lain jika kalian ingin di Hargai, semua yang di tanam akan kembali ke diri kalian masing-masing. Salam Satu Jiwa.

Sumber : http://supporter.web.id

Read more...

Korban Suporter atau Suporter Korban?

Apa reaksi Anda saat bersantai menyaksikan berita di televisi lalu sejurus kemudian disuguhi informasi yang menyebutkan kelompok supporter tertentu mengamuk dengan melakukan pelemparan ke tengah lapangan dan melakukan pembakaran di beberapa titik di tribun stadion? Kaget atau malah berkata pada diri sendiri “ah Liga Indonesia, sudah biasa”.

Belum selesai disana, esok harinya terbitlah berita di koran yang menyebutkan kelompok supporter tertentu mengamuk karena timnya kalah dan lain sebagainya yang tentu menyudutkan kelompok yang berulah itu. Adilkah? Mungkin ya, mungkin tidak.

Loh kok? sudah jelas mereka yang berbuat karena timnya kalah, supporter di Indonesia mana ada yang dewasa? Mungkin demikian pandangan masyarakat umum dan saya tidak dalam posisi untuk menyangkal hal itu, tetapi boleh kiranya saya mengungkapkan sudut pandang lain yang mungkin bodoh dan sangat sederhana, tetapi bukankah ide yang paling sederhana terkadang jawaban tepat?

Menurut saya sungguh picik jika kita sekadar menonton, mendengar atau membaca berita sebuah kerusuhan di tempat yang damai lalu dengan mudahnya menghakimi “ah payah ah, dasar supporter kampungan” (terlebih Anda adalah penggemar atau penggila sepak bola tetapi tidak pernah datang ke stadion alias terlalu senang dengan sepak bola luar negeri alias tidak suka atau mungkin tidak peduli dengan perkembangan sepak bola domestik).

Suka tidak suka, peristiwa pelemparan atau pembakaran di dalam stadion di Indonesia adalah cerita lama yang terus berulang-ulang bahkan sejak jaman kompetisi perserikatan dan galatama masih berjalan masing-masing. Terkait hal ini, tentu kita semua juga tahu bahwa berbagai usaha berbentuk himbauan kepada supporter agar berlaku tertib mungkin setiap tahun ada spanduk atau flyer yang dibagikan disekitar stadion. Lalu mengapa tidak ada perubahan? pasti ada yang salah disini.

Bukan saya mau bersikap sok tahu, tetapi saya ceritakan sedikit yang terjadi di stadion mungkin hampir di seluruh Indonesia:
1. Tahukah Anda jika banyak petugas keamanan yang datang ke stadion tetapi matanya tertuju kepada lapangan pertandingan dan bukan mengawasi penonton?
Ini sebetulnya kesalahan kecil, tetapi berdampak besar. Kenapa, karena sebetulnya saat petugas keamanan mengawasi supporter sepanjang pertandingan, maka letupan-letupan kecil yang ada bisa langsung terdeteksi.

2. Tahukah Anda ada larangan membawa air dalam kemasan (botol) tetapi banyak sekali pedagang yang berjualan air mineral dalam kemasan (botol) berkeliaran di areal tribun penonton?
Terkesan aneh, botol minuman tidak boleh masuk, tetapi pedagang bebas berkeliaran. Tanya kenapa?

3. Tahukah Anda jika tiket pertandingan biasanya di cetak lebih sedikit dari kapasitas stadion, tetapi banyak penonton tanpa tiket yang bisa masuk ke stadion dengan membayar sejumlah uang kepada oknum petugas yang berakibat sesaknya stadion bahkan bisa meluber ke sisi lapangan.
Ini fakta! silakan Anda bertanya kepada teman yang suka datang ke stadion, jawabnya pasti sama. Bagaimana kenyamanan menonton yang menjadi hak pemilik tiket akan tercipta jika hal seperti ini terus terjadi.

4. Tahukah Anda, ada pagar tinggi yang menjadi pemisah antara petugas keamanan dan penonton di stadion?
Jika terjadi suatu keadaan chaos karena segelintir orang yang terlihat adalah segerombolan kelompok supporter melawan sejumlah petugas keamanan saling serang.

5. Tahukah Anda, saya jarang sekali melihat petugas keamanan yang ditempatkan di areal supporter, jika sekalinya ada, jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah supporter.
Percaya atau tidak, supporter memiliki kemampuan untuk menghancurkan tembok lantai stadion dan menjadikannya sebagai alat untuk menyerang. Percaya atau tidak juga, supporter juga sangat mudah untuk mengumpulkan beragam plastik dan kardus bekas yang ditinggalkan pedagang untuk dibakar.

Menilik lima hal yang saya sebutkan di atas sebetulnya peranan panpel dan petugas keamanan untuk menciptakan iklim stadion yang kondusif sebenarnya sangat dominan, JAUH LEBIH DOMINAN DIBANDING SUPPORTER ITU SENDIRI. Kenapa, karena jika di telusuri lebih dalam lagi supporter ternyata hanyalah korban dari sebuah sistem yang tidak dijalankan dengan baik atau jika mau lebih ekstrim kita katakan saja SISTEM YANG SALAH.

Salah bagaimana? Tentu salah..!!! petugas keamanan ada, sistem untuk masuk ke stadion yang memakai tiket sudah diterapkan tetapi, kok bisa ya oknum petugas disogok sehingga penonton tanpa tiket bisa masuk yang berakibat menonton tidak nyaman penuh sesak? kok bisa ya ada pedagang berkeliaran menjual hal-hal yang dilarang di pintu masuk stadion? kok bisa ya petugas keamanan yang ditempatkan di tribun penonton sedikit? padahal letupan kerusuhan itu biasanya berawal dari sana.
Kalau sudah membaca seperti ini, apa masih mau menyebut supporter biang kerok kerusuhan? saya sih lebih melihat supporter adalah korban dari sebuah sistem yang tidak berjalan mulus dan sistem inilah yang harus diperbaiki dan disorot habis-habisan, karena jika menyorot supporter saja, sekali lagi saya menilai supporter adalah korban.

Lalu bagaimana dengan oknum supporter? loh bukankah negara ini negara hukum? TEGAKAN HUKUM, TANGKAP PERUSUH, PROSES SESUAI DENGAN HUKUM YANG BERLAKU.

SEKALI LAGI SAYA TEKANKAN, SUPPORTER ADALAH KORBAN DARI SISTEM YANG TIDAK BERJALAN DENGAN BAIK…!!!

Sumber : http://supporter.web.id

Read more...

Rabu, 30 Desember 2009

Awal Mula Peseteruan The Jak vs Viking

Perseteruan antar suporter Persija dan Persib sudah berlangsung lama, tepatnya sejak tahun 2000 yaitu bertepatan dengan Liga Indonesia 6 berlangsung. Di putaran 1 sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus dan masuk ke Tribun Timur. Dan terdiri dari banyak unit suporter seperti Balad Persib, Jurig, Stone Lovers, ABCD, Viking dll. Saat itu yang terbesar masih Balad Persib. Meski sempat nyaris terjadi gesekan dengan the Jakmania, tapi alhamdulilah tidak terjadi bentrokan yang lebih luas. Justru kita suporter Persib bergerak ke arah the Jakmania tuk berjabat tangan. Gw inget banget yel-yel kita waktu itu : “ABCD … Anak Bandung Cinta Damai”. Selesai pertandingan suporter Persib juga didampingi the Jakmania menuju bus. Dan The Jakmania mengikuti dengan menyanyikan lagu Halo Halo Bandung.

Penerimaan the Jakmania membuat kita (Viking) berniat tuk mengundang datang ke Bandung saat putaran 2. Dialog berlangsung lancar karena seorang Pengurus the Jakmania yang bernama Erwan rajin ke Bandung tuk bikin kaos. Hubungan Erwan dengan Ayi Beutik juga konon akrab banget sampe2 Erwan pernah cerita kalo dia suka sama adiknya Ayi Beutik. Melalui Erwan jugalah Viking menyatakan keinginannya tuk mengundang dan menyambut the Jakmania di Bandung meski kita sendiri masih khawatir dengan sikap bobotoh yang lain.

The Jakmania saat itu belum sebesar sekarang. Yang nonton di Lebak Bulus aja cuma di sisi Selatan tribun Timur. Jadi bersebelahan dengan Viking. Nah ajakan Viking itu langsung ditanggapi oleh the Jakmania yg memang sudah punya niat jg tuk melakoni partai tandang. Dibentuklah kemudian perencanaan, salah satunya dengan mengutus Sekum dan Bendahara Umum the Jakmania saat itu yaitu Sdr Faisal dan Sdr Danang. Mereka ditugaskan tuk melobi Panpel Persib dari mulai masalah tiket hingga tribun the Jakmania. Kebetulan Danang lagi kuliah di Bandung sehingga tempat kosnya jadi tempat kumpulnya the Jakers disana.

Karena The Jakmania belum berpengalaman mengkoordinasikan anggota tuk nonton tandang. Justru yang menjadi masalah justru bukan di koordinator kepada Panpel Persib tapi di anggota The Jakmania itu sendiri. Banyak anggota yang bandel daftar pada hari H nya. Jumlah yang tadinya cuma 400 orang berkembang menjadi 1000 orang lebih! Bayangin gimana repotnya Pengurus The Jakmania nyari bis tuk ngangkut segitu banyak orang. Akibatnya The Jakmania berangkat baru jam 12 siang! Itu juga terpecah menjadi 3 rombongan. Satu bis berangkat lebih dulu karena akan ganti ban. Disusul 4 bus kemudian. Dan terakhir berangkat dengan 4 bus tambahan.
Keberangkatan The Jakmania sendiri juga masih diliputi keraguan apakah dapat tiket atau tidak. Tim Advance yang diutus mendapatkan kesulitan mencari tiket. 4 hari sebelum pertandingan terjadi kerusuhan di stadion Siliwangi akibat distribusi tiket yang kurang lancar. Ada seorang Vikers yang menganjurkan the Jak tuk hadir di acara khusus pertemuan tim dengan suporternya. Faisal, Danang dan Budi ambil keputusan tuk hadir di acara itu. Disana mereka sempat bertemu Walikota Bandung, Kapolres, Ketua Panpel dan Ketua Keamanan. Mereka semua menjamin bahwa the Jakmania akan bisa masuk dan tiket akan disiapkan khusus. Paling tidak itulah info yang gw dapet dari tim Advance The Jakmania.

1 bis pertama tiba di Stadion Siliwangi. Viking siap menyambut dan mempersilahkan masuk ke stadion, padahal tiket belum di tangan. Sayang hal yang dikhawatirkan Viking terbukti. Perlahan tapi makin lama makin banyak datanglah bobotoh nyamperin the Jak dengan sikap yang tidak simpatik. Melihat gelagat buruk ini Viking minta the Jak tuk keluar dulu ke stadion sambil menunggu rombongan berikut. Sembari menunggu, gw dan beberapa rekan dari The Jakmania ada yang melaksanakan sholat ashar dulu. Ketika selesai sholat, mulailah terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Rekan2 kita dari the Jakmania mendapatkan pukulan disana sini dengan menggunakan kayu. Salah satunya tersungkur berlumuran darah yang keluar dari kepalanya. Melihat situasi ini the Jakmania kembali diungsikan menjauh dari stadion.

Rombongan besar 8 buah bis akhirnya tiba juga. Tapi karena terlambat, stadion Siliwangi sudah penuh sesak. Lagipula kita tetap tidak berhasil mendapatkan tiket. Panpel memang kelihatan salah tingkah dan berusaha mengumpulkan dari calo2 yang masih beredar di sekitar stadion, namun jumlahnya juga tidak memadai hanya 300 lembar. Sementara bobotoh yang masih berada di luar juga mulai melakukan serangan terhadap the Jakmania. Gw sempet coba menenangkan dan cekcok dengan seorang rekan bobotoh yang ngambil dengan paksa kacamata anggota The Jakmania. Bobotoh itu bilang kalo dia kesal sama anak Jakarta karena mereka juga diperlakukan dengan tidak simpatik di Jakarta ketika menyaksikan pertandingan Persijatim vs Persib di Lebak Bulus. Bobotoh tidak mau tau kalo Persijatim tu beda dengan Persija. Seingat gw kejadian ini sempat direkam foto oleh wartawan dari Tabloid GO dan terpampang jelas esoknya di media tersebut.

Gw lalu ngambil inisiatif tuk nyari rombongan pertama the jakmania yang dateng duluan dan mengajak mereka tuk gabung ke rombongan besar. Disana gw minta maaf ke semua anggota The Jakmania karena gagal membawa rombongan sampai masuk ke stadion dan pulang dengan aman. Di situ dari Panpel juga sempat minta maaf. Namun kondisi ini tidak bisa diterima oleh seluruh rombongan The Jakmania, bahkan mereka juga tidak mau berjabat tangan dengan gw dan 2 orang Viking lainnya yang masih setia mengawal meski pertandingan sudah berlangsung.

Ketika rombongan hendak pulang, tiba2 The Jakmania diserang lagi oleh bobotoh yang masih nunggu di luar stadion. Kondisi ini jelas tidak bisa diterima oleh The Jakmania. Sudah ga bisa masuk masih juga diserang. Akhirnya The Jakmania balas perlakuan mereka (Oknum Bobotoh). Jumlah bobotoh di luar stadion masih ratusan sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan pecahnya kaca2 mobil akibat terkena lemparan dari kedua kubu. Ketika polisi datang, keributan mereda dan the Jakmania mulai beranjak pulang. Sempat pula terjadi bentrok beberapa kali ketika rombongan berpapasan dengan bobotoh yang pulang karena tidak kebagian tiket.

Sejak saat itulah api dendam dan permusuhan terus berkobar di kedua belah pihak. Puncaknya di acara Kuis Siapa Berani di Indosiar. Acara ini diprakarsai oleh Sigit Nugroho wartawan Bola yang terpilih menjadi Ketua Asosiasi Suporter Seluruh Indonesia.
Sayang bentrokan ternyata ga bisa dihindari. Bukan gw memihak tapi faktanya memang Viking yang mulai. Mereka neriakin yel2 “Jakarta Banjir” yang dibales juga oleh the Jak. Suasana memanas hingga akhirnya terjadi benturan fisik.

Letak Indosiar di Jakarta, jadi ga heran pelan2 berdatanganlah para suporter Persija kesana. Suasana sudah tidak terkendali dan atas inisiatif Polisi dan Indosiar, Viking langsung diungsikan dengan menggunakan truk Polisi. Namun kejadian ini ternyata dah menyebar luas kemana-mana hingga akhirnya terjadilah penyerangan terhadap rombongan Viking di tol Kebon Jeruk.

Gw juga heran gimana Viking menyatakan klo hadiah menang kuis dirampok the Jak padahal hadiah itu kan belum diserahkan pihak Indosiar. Hadiah itu pun sampe sekarang ga kita terima. Saat itulah nama the Jakmania menjadi buruk. Di mata media the Jakmania tidak menerima kalah sehingga menyerang. Opini sudah terbentuk dan masyarakat di Bandung juga ikutan menghujat, sementara di Jakarta menyayangkan.

Semenjak terjadi permusuhan dengan the Jakmania, apalagi setelah kejadian Indosiar, Viking berkembang pesat menjadi suporter yang dominan di Bandung. Mereka terus menebarkan kebencian ke the Jak dengan mengeluarkan kaos2 dan lagu2 yang bersifat menghujat the Jak. Reaksi anggota the Jakmania juga heboh. Mereka rame2 bikin kaos yang balas menghujat Viking.

Sikap ini justru malah mengobarkan api kebencian suporter Persija terhadap Viking. Sehingga the Jakers banyak yang benci mereka bukan karena tau kejadian awalnya, tapi karena mereka ga suka dikata-katain terus. Belakangan Komisi Disiplin mengeluarkan larangan akan hal-hal seperti ini. Terlambat! Dan penerapannya juga ga konsisten, masih banyak yang tetap melakukannya, bukan hanya Viking atau the Jakmania tapi hampir di semua stadion di Indonesia.

Sebetulnya ada juga pihak2 yang mengusahakan perdamaian. Panpel Persib pernah berinisiatif mempertemukan the Jakmania dan Viking di Bandung. Tapi pertemuan tersebut buntu karena tidak ada niat dari Heru Joko tuk berdamai.

Perseteruan makin melebar. Semakin banyak Viking yang masuk ke website the Jakmania dan menebarkan virus kebencian … semakin banyak dan besarlah kebencian the Jakers ke mereka. Bahkan Panglima Viking Ayi Beutik sempat mengeluarkan pernyataan tuk menjaga kelestarian permusuhan ini seperti Barcelona dan Real Madrid.

Sekarang permusuhan the Jakmania kontra Viking menjadi warna tersendiri bagi sepakbola Indonesia. Seorang sutradara tertarik menjadikan perseteruan ini sebagai inspirasi dalam filmnya yang berjudul ROMEO & JULIET. Di tengah perseteruan, Viking justru kompak untuk menolak film ini dengan alasannya masing2. Ketua Viking dengan didukung anggotanya membuktikan ucapannya dengan menggagalkan pemutaran film ini. Sementara di Jakarta justru sebaliknya, meski pimpinan menyatakan akan menuntut tapi toh hampir semua bioskop2 di jabodetabek dipenuhi oleh The Jakmania yang memang sudah ga sabar menanti film ini diputar.

Nah, itulah kisah panjang tentang permusuhan 2 kelompok suporter besar di Indonesia, paling engga dari kacamata gw. Tulisan ini dibuat atas permintaan seorang bobotoh yang penasaran dengan sebab musabab permusuhan tersebut. Gw juga ga suka dengan orang yang berkomentar sinis baik terhadap the Jakmania maupun Viking. Mereka itu tidak tau apa2, bisanya cuma menghakimi aja. Ada hak apa mereka menghujat? Liat dulu kisahnya baru mereka akan berpikir dan bantu mencarikan solusi.

Klo lu tanya ke gw, masih ada ga kemungkinan damai? Jawabanya ‘bomat” alias bodo amat. Ngapain mikirin? Bagi gw damai tu bukan kata benda, tapi kata kerja. Jadi ga usah banyak ngomong, yang penting buktiin. Lebih baik mikirin KOMITMEN masing2 aja, lebih cinta mana kita sama PERSIB atau sama PERMUSUHAN DENGAN THE JAKMANIA.

Sumber : http://www.facebook.com/topic.php?uid=164951378783&topic=10304

Read more...

Selasa, 15 Desember 2009

Ketika Yel-yelan Penyemangat Menjadi Yel-yelan Permusuhan

ImageSeperti yang kita ketahui, prestasi timnas kita gak sebaik yang kita harapkan.. tapi aku selalu mencoba bangga dengan timnas karena timnas punya supporter fanatik yang bisa membuat penonton meriding mendengar yel-yelan-nya...

Supporter.. mendengar satu kata ini pasti pikiran kita langsung tertuju pada BOLA... yaaa...,, supporter dan bola bagai seorang anak kembar siam.. dimana ada tim bola di situ pun ada supporternya..

Betapa bangganya aku kalau sebuah media massa atau apapun membahas tentang fanatisme para supporter. Jujur aja pertama aku nonton timnas di GBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno, Red.) yang aku tonton bukan permainannya tapi sorak-sorai sang penyemangat menyanyikan yel-yel yang sampai membuat mata aku berkaca-kaca.. Mungkin sebagian orang mengira aku lebay, namun bagi orang yang uda ngerasain dan emang cinta sama bola kata lebay itu gak akan keluar dari mulutnya...

Bicara tentang supporter, di INDONESIA ini pun terdiri dari berbagai warna.. setiap daerah pasti memiliki yang namanya supporter.. dan tidak dipungkiri kalau di suatu daerah pun ada supporter tim luar daerah..

Yah...,, supporter tim luar daerah seperti aku ini.. Persija Jakarta,, suatu tim Ibu kota kebanggaan warga Jakarta yang memiliki warna kebesaran Oren dengan supporter yang bernama JakMania,, aku tinggal di Banten tapi hati aku berlabu di Tim Ibukota ini..

Awal aku suka sama persija, aku gak tahu tuh ada yang namanya permusuhan antar supporter, padahal, dulunya aku ngedukung Persija sama Persib...

Jangan tanya kenapa aku lebih memilih Persija,, karena sampai sekarang pun aku engga tahu alasannya.. Emang bener kata orang, menjadi supporter adalah panggilan hati dan gak bisa dipaksakan.,.

Seiring jalannya waktu aku binggung kenapa ada permusuhan di antara 2 supporter ini,, aku mencoba nanya ke pihak The Jak sama Viking namun kedua jawaban berbeda yang aku dapatkan.. tentunya The Jak membela Jakmania.. dan Viking pun membela Viking.

Ya sudahlah mau diapakan,, yang pasti aku tahu betapa perselisihan ini berimbas pada supporter yang berada di luar kota..

Baru-baru ini ada media massa dan elektronik yang sedang membahas putusan komdis kepada sebuah supporter yang menyanyikan yel-yel berbau rasisme.. sebenernya semua supporter pernah melakukan ini, tapi kenapa yang di sorot begitu dalam menurut aku pada saat sekarang ini..??

Dari sebuah yel-yel yang membuat merinding para pendengarnya yang bertujuan untuk menyematkan tim yang didukungnya sekarang justru menjadi petaka buat persepakbolaan Indonesia..

Yel-yel yang begitu indah didengar malah menimbulkan caci-maki untuk supporter lain..

Kalian yang mencaci di sana, kalian gak tahu bagaiamana susah payah kami supporter yang berada di luar kota yang hanya terdiri dari segelintir oknum, bersusah payah melawan hinaan dari supporter yang kalian caci..

Jangankan untuk berjalan bersama di samping mereka, menampakan muka dengan lambang kebesaran pun kami sudah di caci dari jauh... Mungkin itu hal biasa menurut kalian, tapi menurut kami itu hal yang menyakiti batin kami.. Kalian mungkin tidak bisa merasakannya dan membuat kalian terus dan terus melakukannya.. Mungkin kalian takkan merasakannya karena kalian berada di daerah kekuasaan kalian..

Dari sebuah lagu yang indah yang dibuat dengan maksud menyematkan tim justru sekarang terbalik menjadi penyemangat diri bagi kalian yang lebih mengedepankan otot dari pada berfikir ke depan..

Ayo kawan kita berlangkul bersama demi kemajuan sepak bola Indonesia,,.

DAMAI ITU INDAH Sob,,,

Sumber : http://jakmania.org

Read more...

Kamis, 03 Desember 2009

Posisi Sepakbola Indonesia Diantara Agama, Politik, dan Lain-lainnya

Image"Maaf, misa mingguan besok di Katedral akan dibatalkan, karena akan dipakai untuk turnamen futsal". Apa kira-kira respons masyarakat, terutama umat Katolik akan pemberitahuan tersebut?

Hal yang sama terjadi kepada tim kebanggaan ibukota Persija Jakarta saat ditolak oleh pengelola stadion Gelora Bung Karno untuk melangsungkan pertandingan melawan Persik Kediri dengan alasan bahwa stadion keramat itu akan dipergunakan untuk kegiatan keagamaan. Apa seharusnya diijinkan juga menyelenggarakan sebuah pertandingan sepakbola di Mesjid Istiqlal ?

Inipun bukan pertama kalinya gagalnya Persija maupun Timnas Indonesia untuk beraksi di stadion kebanggaan bangsa itu, dan bukan hanya tersandung ijin polisi, ataupun terkendala kegiatan politik maupun agama, tapi bahkan oleh sebuah promosi obat cina yang sempat menimbulkan kekhawatiran tuan rumah saat menjelang penyelenggaraan turnamen terbesar di Asia 2 tahun silam.

Saya tidak bermaksud menolak acara-acara non-sepakbola yang dilangsungkan di stadion sepakbola, walaupun menurut saya akan lebih baik jika setiap tempat digunakan sesuai tujuannya, tetapi dengan alasan kapasitas tidak jarang yang menggunakan stadion-stadion olahraga untuk acara-acara seperti konser, kebaktian, dll, tetapi itu pula diselenggarakan dengan jadwal yang jelas dan teratur. Tidak mungkin jadwal final Piala FA di Wembley ditunda karena adanya konser musik, ataupun jadwal pertandingan Liga Italia di San Siro diundur karena sebuah pertandingan tinju. Tidak terorganisirnya jadwal dan prioritas merupakan satu kendala besar yang dialami oleh persepakbolaan Indonesia, hal-hal yang seharusnya dapat diatur, direncanakan dan dibereskan secara sempurna saat masa pra-musim malah menjadi suatu rolling event yang harus terus menerus dilakukan tiap minggunya, seperti perihal masalah ijin pertandingan. Entah salah Badan Liga Indonesia (BLI), PSSI, pengelola stadion, Polri, ataupun klub itu sendiri, tetapi kemungkinan besar hal ini terjadi dikarenakan oleh minimnya komunikasi ataupun sikap saling menunda antara semua pihak.

Persija Jakarta masih beruntung untuk dapat menggunakan stadion kebanggaan lama mereka yang tak kunjung direnovasi oleh pemerintah, Lebak Bulus. Tetapi bagaimana jika itu terjadi kepada klub-klub lain yang hanya memiliki satu stadion?

Mungkin publik dan pemerintah belum menyadarinya atau sekedar menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting di tengah gejolak dalam negeri. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah pernah menulis kalau Sepakbola adalah salah satu alat politik yang terkuat, dan bagi banyak orang Sepakbola pun menjadi satu agama yang mereka peluk dengan setia sampai mati. Jadi tolong, Saya mohon, jangan menjadikan kepentingan Sepakbola berada dibawah kepentingan politik dan agama, apalagi hanya sebuah kepentingan satu perusahaan untuk mempromosikan barang dagangannya.

Sumber : http://jakmania.org

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP